Kamis, 25 November 2010

NOEL JAMES COULSON

MODEL PENELITIAN FIQIH

KONFLIK DALAM YURISPRUDENSI ISLAM

(NOEL JAMES COULSON)

A. Latar Belakang Masalah

Pembahasan Muslim dan Non-Muslim (orientalis) secara sadar muncul dalam konflik antara Muslim Timur dan Kristen Barat selama masa pertengahan. Sejalan dengan kemunduran negeri-negeri Muslim dan berada dibawah penjajahan Barat beberapa abad lamanya, dua konsep simultan tentang studi Islam muncul, satu diluar dunia Muslim dan lainnya di dunia Muslim. Kebanyakan pembaca Barat lebih dekat dengan karya-karya dan kritik Islamis Barat tentang Islam. Namun demikian, mereka kurang akrab dengan impak dari kajian para sarjana Muslim yang telah berusaha mempertahankan tradisi mereka sesuai dengan sumber, standar, dan kriteria yang berasal dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dengan kata lain Studi Islam di Barat didorong oleh kebutuhan akan kekuasaan kolonial untuk belajar dan memahami masyarakat yang mereka kuasai.

Di sisi lain studi Islam di Barat juga perlu diuji. Dengan rasa ingin tahu dan metode spekulasif, para sarjana Barat dirangsang oleh kontak mereka dengan kebudayaan Timur. Studi-studi mereka kurang deskriptif dan analistis, tetapi lebih bersifat historis dan terkaan. Hal ini adalah benar menyangkut karya-karya tertulis tentang agama Islam khususnya. Persoalan-persoalan tentang asal-usul Islam, derivasi pengetahuan dan gagasan-gagasan nabi, kronologi susunan ayat-ayat al-Qur’an, otensitas hadits, dan materi-materi lainnya, menjadi topik besar penelitian. Disamping karya-karya mereka lebih banyak meninggalkan terkaan, metode-metode yang digunakan pun jauh dari “bidang” yang disulap untuk menjelaskan Islam. Sosialis kembali pada interpretasi Marxis, menemukan dalam teori perjuangan kelas sebagai solusi atas persoalan tentang sebab-sebab historis dan mereka mengabaikan kemungkinan orisinalitas Islam. Di Eropa Barat dan Amerika, akar-akar Islam dipandang berasal dari tanah-tanah subur Judeo-Kristiani. Kebenaran-kebenaran yang diterima dan dipegangi seluruh Muslim selama 14 abad yang lampau- kehidupan nabi, sunnahnya dan tes al-Qur’an, yang semuanya merupakan muatan iman Muslim yang suci ditundukkan pada analisis kritis yang salah arah, yang kadang-kadang tidak benar dan kurang sensitif. Situasi ini dipersulit lebih jauh oleh warisan ketidak senangan pengalaman politik masa lalu dan prasangka kultural yang terus hidup.[1]

Tujuan penulisan ini adalah untuk menyajikan perspektif Muslim tentang hubungan keyakinan Islam dengan disiplin keilmuan yang mengkajinya. Karena sejarawan agama yang menulis tentang Islam mengumpulkan sedikit informasi terutama dari para pakar Barat dalam “studi Islam”, fokusnya adalah pada permasalahan Islam. Esensi masalah yang perlu dikemukakan adalah : Apakah istilah studi Islam (Islamic studies) menandai pencarian intelektual yang hanya diupayakan dan dipertahankan oleh para sarjana Barat? Pandangan ini, meskipun sudah umum didunia Barat, mengabaikan studi Islam oleh para Muslim sendiri sejak kemunculan Islam. Lalu , apakah studi Islam Barat secara intrinsik salah arah atau berbahaya? Ini juga merupakan sikap buta terhadap capaian-capaian yang telah dicapai oleh banyak non Muslim. Dimana letak masalah yang banyak dialami Muslim dengan studi Islam”?

Sebagaimana dikenal oleh sarjana hukum di barat pada umumnya, bahwa konflik berasal dari kontroversi pertanyaan mendasar mengenai hakikat hukum. Konflik pada dasarnya merupakan produk dari keragaman filsafat hidup dan ideologi politik yang populer di dalam peradaban barat dan juga keragaman pandangan tentang nilai-nilai akhir dan tujuan hidup manusia.[2]

Yurisprudensi Islam menurut Coulson dalam arti yang tidak ada kompromi, menurut keyakinan agama itu sendiri. Hukum adalah sistem tentang perintah Tuhan yang ditentukan secara ketuhanan. Menolak prinsip ini pada dasarnya meninggalkan keimanan dalam Islam. Ia juga mengatakan Tuhan memberikan , manusia yang mengatur.[3]

Coulson mengatakan Yurisprudensi Islam adalah keseluruhan proses aktifitas intelektual yang memastikan dan menemukan istilah keinginan Tuhan dan mentransformasikannya ke dalam suatu sistem hak dan kewajiban yang secara hukum dapat dilaksanakan. Dalam istilah-istilah dan batasan-batasan seperti itulah ketegangan dan konflik pemikiran Islam timbul.

Konflik dalam Yurisprudensi Islam merupakan buah karyanya yang kelima. Buku ini mengetengahkan penyelidikan Prof. Coulson mengenai hakikat hukum Islam dengan cara menguji enam sifat yang berlawanan. Keenam sifat itu adalah wahyu dan akal, kesatuan dan keragaman, otoritas dan kebebasan, idealisme dan realisme, hukum dan moralitas, serta stabilitas dan perubahan. Prof. Coulson mencoba mengarahkan sejarah perkembangan hukum Islam yang diperankan oleh para Hakim dan Mufti.

Keenam prinsip konflik tersebut ditawarkan untuk diuji dan tidak harus dipandang sebagai aspek-aspek pemikiran hukum Islam yang terpisah dan berbeda melainkan harus dipandang sebagai topik yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang permasalahan yang penulis uraikan di atas, maka penulis dapat merumuskan maslah sebagai berikut;

1. Apa pengertian dari Konflik dalam Yurisprudensi Islam?

2. Bagaimanakah pandangan Coulson terhadap hakikat hukum Islam?

3. Bagaimanakah Konflik dalam Yurisprudensi Islam diuji melalui enam prinsip konflik oleh Coulson?

C. Pentingnya Topik Penelitian

Model penelitian fiqh yang dikembangkan oleh para orientalis terutama dalam konflik yurisprudensi Islam, dalam kasus-kasus tertentu, dikaitkan dengan pemikiran hukum yang berkembang di kalangan masyarakat Barat. Dalam persoalan pokok dan amat sentral dalam pembahasan hukum Islam bertumpu pada wahyu dan akal yang kemudian muncul masalah-masalah lain seperti kesatuan dan keragaman, otoritas dan kebebasan, idealisme dan realisme, stabilitas dan perubahan. Secara sepintas hubungan dua kutub nampak berbeda dan bahkan bertentangan, namun jika dicermati keduanya saling berhubungan dan dan bersifat komplementer dan bukan saling bertentangan, sehingga umat Islam tidak perlu lagi terjebak pada penegakan hukum semata tanpa memperhatikan pentingnya landasan moral.

Dalam model penelitian ini, suatu metodologi yang diharapkan adalah mendekati obyektif yakni kombinasi dan sinergi dengan pendekatan normative dan empiris, sebab penelitian yang dilakukan orientalis patut dipertanyakan keabsahannya dalam mengkaji secara obyektif agama Islam.[4]

Bahwa pendapat ahli hukum tidak bisa dianggap sebagai hukum, karena itu hanyalah suatu usaha memahami atau menemukan hukum bukan untuk menciptakan atau menentukannya. Oleh karenanya ijma’ harus membuktikan kebenaran hukum yang sesuai dengan nash.

Topik yang ditawarkan Coulson akan memberikan landasan yang kokoh dan logis dalam rangka menghadapi problem besar hukum kontempoer dan yurisprudensi Islam.

D. Telaah Pustaka

Untuk membandingkan dan melengkapi literatur mengenai topik dalam tulisan ini, maka penulis menyebutkan beberapa referensi berikut, meskipun di sisi lain ada perbedaannya.

Joseph Schacht dalam An Introduction to Islamic Law yang setuju dengan tesis yang mengatakan bahwa hukum Islam memang banyak: berhutang budi kepada sistem-sistem hukum. Schacht berpendapat bahwa hukum islam, baru muncul di sekitar abad kedua hijriah. Coulson menyatakan bahwa hukum islam telah lahir pada masa Rasul.

J.N.D Anderson dalam Islamic Law in The Modern World, Penulisan ini telah mempengaruhi Coulson untuk memberikan perhatian terhadap hukum Islam kontemporer. Sehingga dia mengkombinasikan bidang yang ditekuni Schatc dan Anderson yakni hukum Islam klasik, tengah dan modern dan juga membandingkannya dengan pemikiran dan prktik hukum yang berkembang di kalangan masyarakat Barat.

Imam Asy-Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri Ushul Fiqh atau di anggap sebagai perintis dan Bapak yurisprudensi Islam. Juga Beberapa Fuqaha yang lain yakni Fiqh Hanafi, Maliki dan Hambali. 4 Mazhab tersebut adalah awal dan landasan para orientalis untuk mengkaji Hukum Islam dan salah satunya yaitu Noel James Coulson.

E. Metodologi Penelitian

Secara umum, pendekatan dan metode yang digunakan Coulson sama dengan yang digunakan sarjana barat lainnya dalam bidang ke-Islaman, yakni tergolong Revisionis dan bahkan Double Revisionis dan bukan tadisionalis. Dengan pendekatan dan metode yang demikian, maka karya-karya sejarah tentang Islam, termasuk hukum Islam, dikaji ulang dan dicoba ditafsirkan kembali data sejarah yang ada dengan menggunakan pendekatan yang lazim di Perguruan Tinggi Barat [5]. Namun demikian, meskipun dengan metode dan pendekatan yang sama tidak selalu pada kesimpulan yang sama pula.

Menurut pemahaman penulis ada tiga pendekatan yang digunakan orientalis dalam penelitian hukum Islam, atau disebut Three dimensional approach sebagaimana yang dikemukakan oleh john O. voll yaitu:
1) Peneliti harus memberikan perhatian yang cukup terhadaq pemikiran tokoh & kelompok-kelompok yang berpengaruh dalam satu gerakan tertentu.
2) Hendaknya diteliti bagaimana respon gerakan tersebut; terhadap ide-ide baru yang muncul di tengah masyarakat.

3) Seorang peneliti harus mempunyai bekal yang cukup tentang ajaran Islam itu sendiri.

Adapun model yang digunakan dalam penelitian hukum Islam adalah biasa disebut dengan Anachronistic modes of interpretation (r. stephen trtumphryes), ada dua model:

1) pertama, Synchronic, yakni memahami data sesuai dengan apa adanya.
2) kedua, Diachronic, yakni menginterpretasi data (masa lalu ) berdasarkan situasi dan kondisi dan pemahaman masa kini[6].

Dengan kedua model ini, kejadian masa lalu menjadi hidup kembali dan bermakna bagi manusia sekarang dan bahkan yang akan datang.

Penelitian Coulson telah mengkombinasikan pikiran-pikiran Schacht dan Anderson serta membandingkannya dengan pemikiran dan praktik hukum yang berkembang di kalangan masyarakat Barat. Jadi pemikiran Coulson menurut Muhammed Salim el- Alwa sangat dipengaruhi oleh kerangka berpikir, pendekatan, metode yang berkembang dalam tradisi pemikiran Barat, hal ini terlihat ketika Coulson meyakini adanya pemisahan antara moral dengan hukum dan antara etika dengan hukum[7].

F. Ruang Lingkup Penelitian

1. Pengertian

Konflik, berasal dari kontroversi pertanyaan mendasar mengenai hakikat hukum. Konflik pada dasarnya merupakan produk dari keragaman filsafat hidup dan ideologi, politik yang populer di dalam peradaban Barat dan juga keragaman pandangan tentang nilai-nilai akhir dan tujuan hidup manusia.

Yurisprudensi Islam adalah keseluruhan proses aktifitas intelektual yang memastikan dan menemukan istilah keinginan Tuhan dan mentransformasikannya ke dalam suatu sistem hak dan kewajiban yang secara hukum dapat dilaksanakan. Tetapi proses ini tidak menjadi hukum dan tidak pula berlaku sebagai preseden yang harus didiikuti dan untuk melaksanakan hak dan kewajiban kecuali jika ia benar-benar sejalan dengan Nas (Al-qur’an dan Sunnah)[8].

Menurut Salmond dalam Jurisprudence, hukum mencakup setiap aturan bertindak, setiap standar atau pola di mana perbuatan-perbuatan (baik yang melalui perantara rasio atau kerja-kerja alamiah itu ada atau harus disesuaikan[9].

2. Hakikat Hukum Islam

Persoalan mendasar menyangkut hakikat hukum Islam telah selesai dalam arti, pengakuan tidak adanya kompromi bahwa hukum itu didasarkan pada keyakinan keagamaan itu sendiri. Hukum adalah sistem perintah yang diwahyukan Tuhan. Mengingkari prinsip ini berarti menolak keyakinan agama. Walupun hukum di dalam Islam merupakan pemberian Tuhan, tetapi manusia yang harus merumuskan dan mempergunakannya. Tuhan yang merencanakan, manusia yang memformulasikan. Antara rencana Tuhan semula dan disposisi manusia pada akhirnya terdapat bidang aktifitas intelektual dan keputusan yang amat luas.

Coulson menampilkan contoh pengadilan Islam di Maroko sekarang ini, dapat mengabulkan permintaan cerai seorang istri dengan alasan merasa dirugikan suami yang mengambil istri kedua. Ketetapan cerai merupakan disposisi manusia yang berasal dari ketentuan Tuhan yang terkandung di dalam Al-Qur’an bahwa”istri-istri agar diperlakukan dengan kearifan”. Tetapi antara teks Al-Qur’an dan ketetapan pengadilan terdapat rangkaian pertanyaan mengenai siapa yang menetapkan kebenaran teks Al-Quran?, Apa arti yang tepat berkenaan dengan norma-norma perilaku sosial yang terkandung di dalamnya? Dengan wewenang macam apa arti yang tepat itu diungkapkan dan ditentukan dalam bentuk-bentuk peraturan-peraturan yang sah yang harus dipatui oleh pengadilan dan penanganan hukum yang bisa diberikan?[10]

3. Enam Prinsip Konflik dalam Yurisprudensi Islam

a. Wahyu dan Akal

Hukum Islam telah dilukiskan sebagai hukum Tuhan sekaligus hukum yang dlahirkan oleh para fuqaha. Gambaran yang agak kontradiksi ini memberi peluang munculnya konflik dasar antara wahyu Tuhan dan pemikiran manusia (fuqaha). Problem yang dipilih Coulson adalah tentang warisan. Ada kasus seorang wanita muslimah yang meninggal dunia tanpa berwasiat, dengan meninggalkan suami-ibu-kakek dari pihak ayah saudara laki-laki kandung dan dua saudara laki-laki seibu.

Ahli waris yang ditentukan dalam Al-Qur’an adalah ibu-anak perempuan dan saudara perempuan, saudara laki-laki seibu-suami atau istri yang masih hidup. Tetapi bagaimana dengan sanak famili keturunan melalui pihak laki-laki yang hampir tidak mendapatkan sebutan dalam Al-Qur’an?

Untuk menjawab masalah ini para fuqaha berpaling kepada materi yang melengkapi wahyu Tuhan yang terdapat dalam sunah Nabi dan mendapatkan pemecahannya di dalam keputusan Nabi dalam kasus harta milik Saad. Istri Saad dengan 2 orang anak perempuannya ditinggal tanpa harta sedikitpun, karena seluruh harta milik Saad telah diambil oleh saudara laki-laki Saad yang menuntut harta waris sesuai menurut hukum adat suku sebagai orang terdekat menurut keturunan garis laki-laki.

Tidak lama setelah itu ayat-ayat tentang waris turun. Kemudian Nabi memutuskan bahwa janda Saad semestinya mendapat bagian dari harta tersebut seperti yang telah ditentukan Al-Qur’an yakni 1/8; 2 orang anak perempuan masing-masing 1/3 jadi keduanya secara bersama-sama mendapat 2/3 dari harta; sedangkan saudara laki-laki Sad mendapatkan sisa (asabah) dalam kasus ini jumlah bagiannya menjadi 5/24 dari harta.

Dari pemecahan masalah ini bisa dikatakan hukum adat tetap berlaku disertai beberapa modifikasi sebagaimana diperkenalkan oleh Al-Qur’an. Alqur’an tidak sepenuhnya mnggantikan hukum yang ada, tetapi hanya memperbaiki dalam kasus-kasus tertentu.

Menurut Coulson dari sudut ini hukum Islam adalah hukum Tuhan dan sekaligus hukum buatan manusia. Dalam pemikiran yurisprudensi Islam dua deskripsi tersebut adalah saling melengkapi dan tidak saling kontradiksi.[11]

b. Kesatuan dan Keragaman

”Perbedaan pendapat dikalangan umatku adalah rahmat dari Allah”. Diktum yang diyakini berasal dari Nabi Muhammad SAW. Ini digunakan untuk menjelaskan sekaligus menjustifikasi yurisprudensi Islam, terutama menyangkut adanya pandangan yang sangat bervariasi dalam ajaran fiqh yang dirumuskan oleh para fuqaha.

Sebagai contoh, Coulson mengungkap soal perkawinan. Sejauh menyangkut sifat-sifat dasar lembaga perkawinan, demikian juga tentang poligami, semua mazhab sepakat. Namun muncul pertanyaan seberapa jauh suami istri bebas mengatur hubungan perkawinan mereka sendiri, berkaitan dengan hak dan kewajiban, dengan menyetujui syarat-syarat khusus dalam akad perkawinan? seperti contoh: suami menyetujui dalam akad perkawinan bahwa dia tdak akan mengambil istri kedua selama berlangsungnya perkawinan. Apakah ini sah dan persetujuan tersebut dapat dilaksanakan atau tidak. Prinsip yang dikenal berkaitan dengan terminologi hukum adalah ibadah yang dapat diterjemahkan sebagai toleransi. Menurut Mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i bahwa ibadah tidak mempunyai relevansi di sini. Namun fiqh Hanbali memegang prinsip ibadah dapat digunakan dalam kasus tersebut. Persetujuan pada umumnya sah dilaksanakan asalkan tidak ada hukum yang melarang secara khusus hal tersebut, atau secara nyata berlawanan dengan esensi perkawinan.

Aturan poligami itu bersifat kebolehan bukan perintah. Poligami tidak secara khusus dilarang dan tidak pula berlawanan dengan esensi perkawinan bahwa seorang laki-laki hanya memiliki seorang istri. Karena itu persetujuan suami istri dalam hal ini sah dan dapat dilaksanakan sehingga istri akan dibebaskan dari kujiban-kuajibannya dan akan memperoleh surat ketetapan cerai apabila mengajukan permohonan ke pengadilan. Ini merupakan proses tujuan sosial yang baik dan telah memberikan arti praktis baru dan lebih dalam terhadap diktum Nabi yang terkenal: ”Perbedaan dikalangan umatku adalah rahmat dari Allh” [12]

c. Otoritas dan Kebebasan

Dalam kasus ini Coulson mengangkat contoh kasus perceraian. Menurut konsensus fuqaha tradisional, kekuasaan penolakan yang dimiliki suami adalah sewenang-wenang dan absolut. Dia dapat menggunakan sewaktu-waktu, dan moifnya dalam menjatuhkan talaq tidak bisa digugat baik melalui pengadilan atau badan resmi lainnya. Dalam hukum Islam modern bahwa Mahkamah Agung memberi restu kepada keputusan pengadilan tinggi atas kasus Balquis Fatima yang mengajukan cerai karena suaminya gagal memberi nafkah atau disebut perceraian khulu’. Usulan apa saja yang beranjak dari hukum otoritas klasik harus selalu didasarkan atas petunjuk Al-Qur’an atau As-Sunnah atau sekurang-kurangnya tidak berlawanan.[13]

d. Idealisme dan Realisme

Dalam pembahasan ini Coulson lebih menitikberatkan kepada perumusan dan perkembangan doktrin hukum oleh para ahli hukum Islam. Coulson bermaksud memberikan perhatian menyangkut praktik hukum dalam Islam, administrasi hukum melalui pengadilan resmi negara Islam.

Salah satu contoh dalam pembahasan ini adalah;dari doktrin syari’ah yang susbtantif (riil) dimana idealisme fuqaha bertentangan dengan keadaan praktik hidup, misalnya konsep riba. Menurut hukum syari’ah kontrak khamisa, 1/5 adalah batal atas dasar bahwa sewa tersebut tidak menentu; pertama kontrak itu terdiri dari bahan makanan yang tunduk kepada fluktuasi harga pasar. Kedua nilai persis dari porsi 1/5 bergantung pada kualitas hasil panen dan tidak diketahui pada saat kontrak ditandatangani. Menurut pemahaman fuqaha, kontrak ini penuh dengan resiko dan spekulasi. Keuntungan yang menjadi milik tuan tanah atau penyewa merupakan keuntungan spekulatif dan serupa dengan riba. Meskipun begitu kontrak khamisa dipraktikkan secara luas sebagai sesuatu kebutuhan ekonomi dalam masyarakat yang mempunyai modal fluktuasi kecil, dan akhirnya para qadi Maliki mengakui keabsahan lembaga tersebut, atas dasar kebutuhan sehingga hal itu menjadi bagian integral dari hukum syari’ah seperti diterapkan oleh pengadilan mereka. Jadi doktrin syari’ah, baik dalam tradisi sejarah maupun praktik kontemporer, hanya merupakan bagian dari sistem hukum Islam aktual[14].

e. Hukum dan Moralitas

Dalam lapangan hukum keluarga kontemporer Islam sedang mengalami kebangkitan moralisme hukum. Pengadilan yang menerapkan hukum syari’ah sekarang ini, di dalam memutuskan apakah perceraian itu karena alasan yang tepat atau apakah perkawinan poligami yang ditawarkan adalah tidak merugikan hak perlakuan adil bagi istri, atau dalam membuat wasiat atas nama almarhum yang lupa dalam melaksanakan kewajiban pribadinya, adalah dalam rangka melaksanakan standar etika yang berakar dari doktrin syari’ah yang telah lama diabaikan oleh praktik pengadilan syari’ah. Berdasarkan ketentuan hukum modernis di Timur Tengah sekarang ini pengadilan-pengadilan itu diharapkan untuk melakukan sensor umum dan menjadi penjaga moral masyarakat seperti hakim-hakim di Inggris dalam kasus Shaw.[15]

f. Stabilitas dan Perubahan

Dalam sejarah hukum universal hampir tidak tidak ada clash yang bergema antara kekuatan stabilitas dan kekuatan yang menggerakkan perubahan dibanding yang dihadapi Islam kontemporer. Stabilitas yang mnampak di dalam benteng doktrin syari’ah yang telah dicatat di dalam kitab-kitab hukum abad pertengahan yang menggambarkan sistem hukum Tuhan yang benar secara universal dan terus-menerus bagi masing-masing mazhab. Dengan menggunakan doktrin darimazhab-mazhab yang lain dengan membebaskan para hakim dan ahli hukum dari doktrin taqlid yang otoriter dan mengijinkan kebebasan yang lebih besar bagi pemikiran hukum baik dengan jalan interpretasi wahyu Tuhan atau dengan cara solusi masalah yang tidak secara khusus diatur oleh wahyu Tuhan, hukum syari’ah tetap mampu mengontrol kehidupan keluarga dan dalam beberapa kasus mempertegas kembali kontrol itu dengan kekuatan baru melalui kebangkitan moralisme hukum.

Dalam Islamic Reform, Kerr mengatakan : yang mendasari tradisi pemikiran sosial Islam adalah kesadaran pesimistis tentang ketegangan antara ideal dan aktualitas, spiritual dan temporal, kebaikan dan kekuasaan, perintah Tuhan dan tingkah laku manusia [16]

Muhammad Muslehuddin berpendapat bahwa Kerr, dan juga Coulson salah dalam berpendapat tentang hukum Islam, yakni mereka mengatakan bahwa hukum Tuhan adalah pendapat para ulama dan perbedaan pendapat yang ada tentangnya dianggap sebagai konflik dan ketegangan dalam hukum itu sendiri.

Usaha-usaha para ulama dalam menafsikan hukum Tuhan, adalah untuk memahami dan menemukan hukum bukan untuk menentukan atau menciptakannya.[17]

G. Sumbangan dalam Keilmuan

Sumbangan keilmuan yang dapat kita ambil dari penulisan dan penelitian Noel James Coulson adalah;

1. Validitas (keabsahan) Orientalisme sebagai peletak sumber hukum Islam diBarat. Terlebih pada jaman mutakhir ini literatur keIslaman di banjiri oleh bahan-bahan dalam berbagai bahasa Barat yang kaya karya-karya penting. Sehingga ini merupakan tantangan metodologis tersendiri bagi umat Islam dalam mengkaji kajian keIslaman.

2. Keabsahan orientalis dalam peletak sumber hukum Islam di Barat merupakan pertanyaan besar yang perlu mendapatkan respons dan perlunya mendefinisikan sikap yang obyektif dan konsisten terhadap orientalisme. Sehingga studi perbandingan sistem hukum Islam dari Umat Islam untuk meluruskan berbagai pandangan negatif terhadap hukum Islam dari kalangan orientalis

3. Memberikan pengetahuan kepada umat Islam, bahwa tidak semua orientalis bertentangan dengan hasil penelitian dan pemikiran yang berkembang di kalangan umat Islam, Coulson berusaha meyakinkan para sarjana lainnya bahwa ada hadis yang betul-betul berasal dari Nabi, pandangan ini sejalan dengan penelitian umat Islam pada umumnya.

4. Memberikan pengertian kepada umat Islam bahwa keenam konflik tersebut adalah saling berhubungan serta bersifat komplementer dan bukan saling bertentangan.

5. Umat Islam tidak lagi tidak terpukau terhadap pola pikir sekuler ala barat yang secara tegas memisahkan hukum dari moral.

6. Apa yang di tulis Noel James Coulson akan memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi para peneliti dan mahasiswa terutama yang mempelajari perbandingan hukum.

H. Kesimpulan

Berdasarkan pengkajian dan penelaahan karya Noel James Coulson, maka penulis dapat memberikan konklusi sebagai berikut;

Konflik pada dasarnya merupakan produk dari keragaman filsafat hidup dan ideologi politik yang populer di dalam peradaban barat dan juga keragaman pandangan tentang nilai-nilai akhir dan tujuan hidup manusia.

Yurisprudensi Islam adalah keseluruhan proses aktifitas intelektual yang memastikan dan menemukan istilah keinginan Tuhan dan mentransformasikannya ke dalam suatu sistem hak dan kewajiban yang secara hukum dapat dilaksanaka.

Persoalan mendasar menyangkut hakikat hukum Islam telah selesai dalam arti, pengakuan tidak adanya kompromi bahwa hukum itu didasarkan pada keyakinan keagamaan itu sendiri. Hukum adalah sistem perintah yang diwahyukan Tuhan. Mengingkari prinsip ini berarti menolak keyakinan agama. Walupun hukum di dalam Islam merupakan pemberian Tuhan, tetapi manusia yang harus merumuskan dan mempergunakannya.

Konflik dalam Yurisprudensi Islam merupakan buah karyanya yang mengetengahkan penyelidikan Prof. Coulson mengenai hakikat hukum Islam dengan cara menguji enam sifat yang berlawanan. Keenam sifat itu adalah wahyu dan akal, kesatuan dan keragaman, otoritas dan kebebasan, idealisme dan realisme, hukum dan moralitas, serta stabilitas dan perubahan.

Keenam sifat tersebut adalah saling berhubungan serta bersifat komplementer dan bukan saling bertentangan.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Yasid, Fiqh Realitas Respon Ma’had Aly Terhadap Wacana Hukum Islam Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005

Hasan Hanafi et.al, Pengantar Abu Hatsin, Islam dan Humanisme, Semarang: Pustaka Pelajar, 2007

Kerr, Islamic Reform, California, 1966

Muhammad Muslehuddin, Filsafat Hukum Islam dan Pemikirin Orientalis Studi Perbandingan Sistem Hukum Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991

Noel James Coulson, Pengantar Akh. Minhaji Konflik Dalam Yurisprudensi Islam, penerjemah Fuad, Yogyakarta: Navila, 2001

Richard C.Martin. Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, kata pengantar ; H. M. Amin Abdullah, Surakarta, Muhammadiyah University Press 2002

Sadari Ahmad, Validitas Orientalisme Sebagai Peletak Sumber Kajian Hukum Islam di Barat, 0 komentar,http:uinsuka.blogspot.com/2008_01_01_archive.html

Salmond, Jurisprudence, edisi vii ,London: 1924

Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Yogyakarta: Teras, 2008

Taha Jabir al-Alwani, Metodologi Hukum Islam Kontemporer, Penerjemah Yusdani, Yogyakarta: UII Press 2001



[1] Richard C.Martin. Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, kata pengantar ; H. M. Amin Abdullah (Surakarta, Muhammadiyah University Press 2002)

[2] Noel James Coulson, Pengantar Akh. Minhaji Konflik Dalam Yurisprudensi Islam, penerjemah Fuad, ( Yogyakarta: Navila,2001), hal.1

[3] Muhammad Muslehuddin, Filsafat Hukum Islam dan Pemikirin Orientalis Studi Perbandingan Sistem Hukum Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hal. 155

[4] Ibid., hal. 156

[5] Noel James Coulson, Konflik ……, hal. viii

[6] Sadari Ahmad, Validitas Orientalisme Sebagai Peletak Sumber Kajian Hukum Islam di Barat, 0 komentar, http://pasca-uinsuka.blogspot.com/2008_01_01_archive.html

[7] Noel James Coulson, Konflik…., hal. xi

[8] Muhammad Muslehuddin, Filsafat…, hal. 157

[9] Salmond, Jurisprudence, edisi vii (London: 1924), hal. 19

[10] Noel James Coulson, Konflik…, hal. 2

[11] Ibid., hal. 4-24

[12] Ibid., hal. 25-48

[13] Ibid., hal.49-70

[14] Ibid., hal. 71-94

[15] Ibid., hal . 118

[16] Kerr, Islamic Reform, (California, 1966), hal. 19

[17] Muhammad Muslehuddin, Filsafat…, hal. 189

Sabtu, 20 November 2010

Komparasi Metode PAI di Dunia Islam dan Barat

KOMPARASI METODE PEMBELAJARAN
PENDIDIKAN ISLAM
DI DUNIA ISLAM DAN BARAT

A. Pendahuluan
Suatu negara menyelenggarakan pendidikan bagi bangsanya adalah dengan maksud mencerdaskan rakyat, meningkatkan pengetahuan mereka demi kesejahteraan bersama yang pada gilirannya akan menjadikan negara itu mengalami kemajuan. Akan tetapi perkembangan pendidikan suatu negara perlu melihat kemajuan pendidikan yang dicapai oleh negara lain. Itulah sebabnya dalam memajukan pendidikan suatu Negara perlu membandingkan dengan pelaksanaan pendidikan di negara lain, mengetahui persamaan dan perbedaannya, kelebihan dan kelemahannya lalu mengambil unsur positifnya sekaligus menyesuaikannya dengan kondisi lokal. Terutama membahas masalah metode pembelajaran pendidikan Islam atau studi Islam di dunia Islam dan Barat
Tentu saja pengalaman pendidikan suatu negara tidak dapat ditranplantasikan begitu saja ke negara lain karena perbedaan budaya, politik, hukum, ekonomi dan lainnya namun pada taraf tertentu prinsip umum yang menjiwai suatu penyelenggaraan pendidikan dapat berlaku secara global di negara lain. Adapun praktiknya bisa disesuaikan dengan Negara yang bersangkutan.
Komparasi yang dimaksud dalam penulisan ini adalah perbandingan antara metode pembelajaran Pendidikan Islam di dunia Islam dan Barat. Perlu penulis berikan penjelasan bahwa dunia Islam penulis batasi dalam konteks, bukan saja negara yang secara formal menjadikan ajaran Islam yakni Al-Qur’an-Hadis sebagai Undang-Undang Negara dan kebijakan pemerintah yang berlaku secara nasional di negara-negaranya melainkan di samping itu dunia Islam adalah dunia dengan Negara dengan komposisi mayoritas berpendudik muslim, dan hak mereka selaku muslim di lindungi. Adapun dunia Islam meliputi Negara yang menjadi anggota OKI diantaranya adalah Negara Mesir dan Malaysia dan dunia Barat penulis batasi meliputi Belanda, dan Amerika Serikat.
Dari uraian tersebut, maka penulis akan membahas mengenai perbandingan metode pembelajaran Pendidikan Islam di dunia Islam dan Barat tentunya tak lepas dari kebijakan pendidikan masing-masing negara yang akan penulis sorot per-negara kemudian disimpulkan secara garis besar menurut sudut pandang penulis.

B. Metode Pembelajaran Pendidikan Islam
Metode berasal dari bahasa Yunani (Greek) terdiri dari dua perkataan yaitu Meta dan Hodos. Meta berarti melalui dan Hodos berarti jalan atau cara. Jadi metode dapat berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.
Sebagai landasan pengembangan kurikulum masa depan yang berdasarkan pendekatan multikultural dapat dilakukan berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini kepada filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan. Filosofi kurikulum yang progresif seperti humanisme, progressivisme dan rekonstruksi sosial dapat dijadikan landasan pengembangan kurikulum.
2. Teori kurikulum tentang konten haruslah berubah dari teori yang mengartikan konten sebagai aspek substantif yang berisikan fakta, teori, generalisasi ke pengertian yang mencakup pula nilai moral, prosedur, proses dan ketrampilan yang harus dimiliki generasi muda.
3. Teori belajar yang digunakan dalam kurikulum masa depan yang memerhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi dan politik tidak boleh lagi hanya mendasarkan diri pada teori psikologi belajar yang menempatkan siswa sebagai makhluk sosial, budaya, politik yang hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa dan dunia yang harus diseragamkan oleh institusi pendidikan.
4. Proses belajar yang dikembangkan untuk siswa haruslah pula berdasarkan proses yang memiliki tingkat isomorphisme yang tinggi dengan kenyataan social. Artinya proses belajar yang mengandalkan siswa belajar individualistis dan bersaing secara kompetitif individualistis harus ditinggalkan dan diganti dengan cara belajar berkelompok dan bersaing secara kelompok dalam suatu situasi yang positif.
5. Evaluasi yang digunakan haruslah meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik sesuai dengan tujuan dan konten yang dikemanghkan. Alat evaluasi yang digunakan haruslah beragam sesuai dengan sifat, tujuan dan informasi yang ingin dikumpulkan. Penggunaaan alternative assessment (portofolio, catatan observasi, wawancara) dapat pula digunakan.
Adapun metode pembelajaran Pendidikan Islam agar dapat menghasilkan lulusan yang kritis dan kreatif adalah
1. Metode a double movement.
Metode ini terdiri dari gerakan ganda, yaitu gerakan dari dari guru ke peserta didik dan sebaliknya dari gerakan peserta didik ke guru. Metode ini diterapkan dengan cara, yaitu gerakan pertama ditujukan pada pemenuhan kompetensi peserta didik dan gerak kedua diarahkan pada pragmatis dan fungsi peserta didik, misalnya peran sosial di masyarakat. Gerak pertama berupa penyadaran akan pentingnya peserta didik memiliki kompetensi tertentu yang memang dibutuhkan oleh umat, dan gerak kedua merupakan kompetensi peserta didik berperan dalam masyarakat setelah mereka selesai menempuh program pendidikan tertentu. Misalnya, ketika mereka masih sekolah menginginkan memiliki kompetensi di bidang pertanian, setelah mereka lulus memang betul-betul dibutuhkan oleh umat.
2. Metode diskusi.
Metode ini dilakukan dengan terbuka dalam arti bahwa peserta didik bisa secara leluasa mengadakan diskusi, baik dengan guru maupun dengan peserta didik tanpa ada rasa takut dan batasan untuk mengemukakan gagasan mereka.
3. Metode pembelajaran kebebasan dan penyadaran.
Peserta didik disadarkan akan posisinya, lantas diberi kebebasan dan motivasi untuk berbuat.
4. Metode dialogis.
Yaitu proses pembelajaran dimana guru menempatkan peserta didik sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek. Metode ini bisa dengan pendidik atau antar peserta didik.





C. Metode Pembelajaran Pendidikan Islam di Mesir
1. Sekilas Pandangan Pendidikan di Al-Azhar

Al-Azhar yang dibangun sejak tahun 359 H, merupakan dasar fundamental dalam membangun paradigma pemikiran keislaman diseluruh dunia. Proses transformasi pemikiran ini bermula dari halaqoh yang diadakan dalam masjid azhar dengan tradisional. Studi halaqoh ini untuk yang pertama kalinya meliputi empat macam materi :
a. Studi khusus untuk mempelajari Al-qur`an dan hadis
b. Studi mencetak guru yang berkualitas iman dan taqwa.
c. Studi yang tergabung dalam majlis Al-hikmah ( khusus untuk tingkatan ulama`)
d. Studi keagamaan khusus bagi wanita
Adapun bidang studi yang digarap adalah bidang studi keislaman yang meliputi bahasa Arab, ilmu logika, ilmu falaq, dan lain-lain. Pasang surut dari suatu perkembangan tetaplah ada, dan ini lah yang terjadi di Azhar. Pada paska pemerintahan Solahuddin Al-ayubi, proses pendidikan Azhar terhenti dan menyebabkan dinamika pemikiran saat itu menjadi statis dalam kurun waktu seratus tahun, baru pemerintahan dipegang oleh para mamalik yaitu pada tahun 866 H, Al-azhar diaktifkan kembali. Seiring dengan penaklukan tarta terhadap kota Bagdad dan pembantaian kaum muslimin di Andalusia, Al-azhar menjadi tumpuan para ulama` untuk menghindari malapetaka dan kekejaman tersebut. Mereka ( para ulama` ) seperti Ibnu Kholdun, Abd Latif Al-bagdady, Ibnu Malik Khan dan lain-lain ikut menyumbangkan khasanah pemikiran Al-azhar. Hal itu didukung oleh pemerintahan Mamalik yang mempunyai ide dalam mempertahannkan ilmu pengetahuan dengan cara memodifikasi karya para ulama` dari berbagi cabang disiplin ilmu.
2. Ide Pembaharuan Pra-Muhammad Abduh
Masa terbentuknya sistem Grand Syeikh Al-azhar pada tahun 952 H/1517 M. menambah kokohnya kedudukan Al-azhar dalam memberikan reputasi ilmiah bagi tenaga pengajar, mufti dan hakim. Seorang syeh Azhar adalah rujukan dari segala macam persoalan keilmuan maupun keadminitrasian sampai masalah pewakafan sehingga sebagai hak seorang syeh untuk melakukan pembagian harta wakaf, hadiah dan lain-lain.
Sistem halaqoh pada waktu itu terdapat tiga metode yaitu penjelasan (syarah), diskusi (naqosy), dialog (khiwar).
Mulai abad XIX dengung pembaharuan mulai bergema di lingkungan al-Azhar, karena pada pemerintahan Muhammad Ali, sekolah-sekolahan di Mesir sudah menerapkan pola ala barat
Tranformasi pemikiran pada masa pemula tersebut disesuaikan pada situasi politik fathimi yang bermadhabkan Syiah, dan pada masa itu terdapat satu bentuk renovasi dalam memajukan pemikiran islam, sehingga tercetuslah sistem pengajaran yang belum pernah terealisasi pada masa lampau. Metode pendidikan klasifikasi sudah mulai diterapkan seiring dengan perkembangan zaman.
Arah baru hawa politik Ayyubi menambah semilir angin kemajuan pada proses belajar dan mengajar di Al-Azhar, dimana bidang studi mulai merangkak pada Al-ulum al-Aqliyah yang meliputi bidang kedokteran ilmu filsafat dll. Al-ayubi juga membentuk dewan administrasi azhar. Usaha utama dalam dewan ini adalah mengeluarkan aturan mengenai sistem pembagian pendidikan al-azhar
Masa pembelajaran al-azhar dibagi menjadi 2 periode :
a. Periode pendidikan dasar yang membutuhkan masa belajar selama 8 tahun dan mendapat Syahadah aliyah ( ijasah kualifikasi ).
b. Periode menengah dan tinggi dengan masa belajar selama 6 tahun dan mendapat Syahadah alamiyah ( kesejahteraan )
Syarat-syarat yang diajukan oleh peraturan tersebut yaitu diwajibkan bagi calon pelajar mampu menulis dan membaca serta menghafal setengah dari kitab Al-Qur’an.
3. Pembaharuan M.Abduh
Bila Muhammad Ali Pasya tampil dalam pembaharuan sistem pendidikan secara nasional di Mesir melalu jalur politiknya sebagai pejabat pemerintah, Muhammad Abduh tercatat sebagai pembaharu Pendidikan Mesir, terutama untuk skop lembaga pendidikan tradisional dan keagamaan. Bagi Abduh ilmu pengetahuan modern yang berkembang di Barat bersumber dari sunatullah jadi tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Iptek telah menjadi sebab kemajuan umat Islam di masa lampau dan merupakan faktor kemajuan di dunia Barat saat ini.Untuk memodernisasi kembali umat Islam, Iptek harus kembali dipelajari. Abduh menghendaki dimasukkannya disiplin ilmu modern dalam kurikulum Al-Azhar, seperti fisika, ilmu pasti, filsafat, sosiologi dan sejarah. Abduh berupaya mengintegrasikan ilmu modern dengan agama. Sekarang Al-Azhar bukan lagi universitas keagamaan yang hanya memiliki beberapa fakultas seperti fakultas Tarbiyah, Syari’ah, Dakwah, Ushuludin dan Adab, melainkan juga terdiri atas berbagai fakultas umum seperti Fakultas Pertanian, Fak. Ekonomi, Fak. Farmasi, Kedokteran, Ilmu Pasti Alam, Teknik dan Industri dan Fakultas Perdagangan dan Manajemen.Modernisasi pendidikan terus dilakukan oleh Mesir. Dewasa ini Mesir telah mengalami transformasi cepat dalam hal perkembangan potensi pendidikannya. Berdasarkan data Dirjen Dikti 1997, disebutkan bahwa dalam satu juta penduduk di Mesir terdapat 400 doktor, suatu angka yang signifikan bila dibandingkan dengan potensi human resources di negara-negara Islam anggota OKI lainnya.
D. Metode Pembelajaran Pendidikan Islam di Malaysia
Pendidikan di Malaysia bertujuan mengembangkan potensi individu secara menyeluruh dan terpadu untuk mewujudkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani, emosi, dan jasmani, berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan.Tujuan ini dimaksudkan agar dapat melahirkan rakyat Malaysia yang berilmu pengetahuan, berketrampilan, berakhlak mulia dan bertanggungjawab terhadap masyarakat dan negara.
Pada dekade 1990-an Malaysia mengadakan perubahan kebijakan pendidikan diantaranya adalah mengutamakan pendidikan teknologi dengan tujuan melahirkan pelajar yang mahir dalam bidang seni perusahaan, perdagangan, dan ekonomi.
Dan beberapa perguruan tinggi yang representatif adalah Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Malaya, Universiti Teknologi Malaysia, Universiti Islam Internasional Malaysia dan Institut Kefahaman Islam Malaysia
Sejak Merdeka pada tahun 1957, ilmu pengetahuan agama Islam telah dijadikan sebagai kurikulum pendidikan nasional di Malaysia, diberikan selama 120 menit perminggu. Akan tetapi karena pemerintah tidak melakukan penekanan atau kewajiban lulus ujian ilmu pengetahuan agama Islam, pelajaran ini tidak mendapat perhatian serius dari siswa. Pada tahun 1982, Perdana Menteri Mahathir Muhammad mengambil keputusan untuk menjalankan kebijakan penanaman nilai-nilai Islam di Pemerintahan. Dengan demikian peran Islam kian penting dalam negara. Islamisasi pemerintahan ini bisa dibuktikan dengan adanya pembentukan Bank Islam, Sistem Asuransi Islam, Universitas Islam Internasional Penyempurnaan Keagamaan Islam dan lain-lain. Pada tahun 1983 Departemen pendidikan menyatakan bahwa nilai-nilai moral akan diajarkan kepada pelajar nonmuslim, sementara ilmu pengetahuan agama akan diajarkan kepada para pelajar muslim. Akibatnya menjelang akhir tahun 1990-an secara drastis jumlah mahasiswi yang memakai jilbab kian meningkat dan perempuan yang tidak berjilbab adalah perillaku perkecualian. Perkembangan masjid dan surau di Malaysia mencerminkan semaraknya aktivitas umat Islam. Masjid-masjid itu bukan saja untuk melaksanakan praktik ibadah salat, melainkan juga sebagai lembaga pendidikan Islam. Surau An-Nur di Bandar Baru Bangi, misalnya merupakan tempat kajian Al-Qur’an dan Tafsir baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Untuk metode pembelajaran pendidikan Islam di Malaysia yeng utama dan paling menonjol adalah metode Spiritual-Mentality Building. Sebagaimana yang diterapkan Rasulullah. Rasulullah meletakkan pondasi mental berlandaskan aqidah yang kuat terhadap kaum muslimin semasa itu. Karena jika pendidikan tidak dimulai dari dalam diri, maka apapun manifestasi pendidikan tersebut hanyalah manipulatiif. Pembentukan mental islam yang kuat akan menghindarkan anak didik dari penyakit hati seperti benci, dengki, buruk sangka, sombong, bohong, pesimis, dsb. Jika seseorang telah mampu mengeliminasi penyakit hati, maka orang tersebut berpotensi besar untuk sukses.

E. Metode Pembelajaran Pendidikan Islam di Belanda
Sejak hampir 15 tahun di Belanda bermunculan sekolah-sekolah dasar Islam. Sekolah-sekolah ini sebenarnya tidak berbeda dengan sekolah-sekolah Belanda lainnya dari segi kurikulum dan kualitas guru mata pelajaran umum. Guru-gurunya juga harus berkualitas yang sama dengan guru-guru sekolah Belanda lainnya. Bedanya hanya pada pelajaran agama dan suasananya. Kalau di sekolah-sekolah lain pada pelajaran agama diajarkan tentang agama-agama lain, tentu di sekolah Islam diajarkan pelajaran agama Islam. Selain itu suasanya Islami. Guru dan murid perempuan berbusana Islam. Juga diselenggarakan sholat berjamaah serta hari-hari besar dirayakan bersama.
Namun dalam hal ini ada perbedaan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Ada yang moderat dan ada pula yang sangat fundamentalis dan malah ekstrem. Gara-gara inilah maka muncul berita belakangan bahwa sekolah Islam itu mengajarkan kebencian terhadap Belanda dan Barat pada umumnya. Ini berarti bertentangan dengan kebijakaan pemerintah Belanda yang menginginkan integrasi kelompok imigran di Belanda. Oleh karena itu inspeksi pendidikan di bawah departemen pendidikan Belanda mengadakan penyelidikan tadi. Inspeksi itu bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut. Benarkah sekolah-sekolah Islam menghalangi proses integrasi? Dan laporan inspeksi ternyata positif. Sekolah Islam tidak menghalangi proses integrasi.
Mengenai hasil penyelidikan dinas inspeksi pendidikan Belanda ini, fokus akhir pekan mewawancarai Yassin Hartog, seorang warga Belanda yang masuk Islam, dari Islam en Burgerschap (Islam dan kewargaan). Terlebih dahulu ditanyakan apa itu Islam en burgerschap.
Menurut Yassin Hartog: “Islam en burgerschap (Islam dan kewargaan) adalah organisasi yang berusaha meningkatkan keterlibatan muslim sebagai anggota masyarakat di Belanda. Titik tolak kami bahwa Islam itu sumber yang kaya norma dan nilai yang juga bisa dijadikan bahan pendekatan terhadap orang Islam. Kami ingin menggunakan norma dan nilai Islam untuk menggalakkan partisipasi muslim sebagai warga di Belanda”

F. Metode Pembelajaran Pendidikan Islam di Amerika
Dalam banyak hal sistem pendidikan di Amerika berbeda dengan yang berlaku di Indonesia, termasuk masalah metode pembelajaran dan tingkat pendidikan. Nilai-nilai individualisme dan kejujuran amat ditekankan dalam konteks kebijakan dan metode pendidikan di Amerika. Beberapa metode intruksional di Perguruan Tinggi yang umumnya diterapkan di Amerika adalah:
1. Kuliah. Metode pembelajaan yang paling umum adalah kuliah di ruang kelas. Perkuliahan ini didukung oleh diskusi kelas (khususnya apabila kelas kecil) dan diskusi kelompok (khususnya bila kelas besar, kelas para sarjana, yakni asisten pengajaran membantu seorang profesor yang hadir memberi kuliah ) dengan membaca tugas buku teks atau buku perpustakaan, serta bisa jadi melakukan tugas tertulis yang sifatnya rutin.
Penting bagi seorang mahasiswa untuk ikut serta terlibat dalam diskusi di ruang kelas. Di beberapa negara mungkin saja mahasiswa yang bertanya atau berlawanan pendapat dengan guru / dosen dipandang ” tidak sopan”. Di Amerika, sebaliknya, bertanya atau berbeda pendapat dengan guru dipandang sebagai tanda memiliki minat, perhatian, dan berpikir mandiri. Di banyak kelas, sebagian nilai mahasiswa ditentukan oleh kontribusi mahasiswa dalam diskusi kelas. Bila anda hanya duduk denagan ” sopan” karena diam, anda dianggap tidak berminat pada apa yang sedang dibahas di kelas atau anda tidak memahaminya.
Jika kelas teramat besar untuk mendapat kesempatan bertanya dan berdiskusi, atau jika karena alasan lain Anda tidak mendapat peluang untuk mengajukan pertanyaan di kelas, Anda dapat mengunjungi dosen secara pribadi selama jam dinasnya atu membuat janji agar dapa menjumpainya di kantor. Biasanya seorang dosen mengumumkan jam kantornya pada saat pertemuan pertama di ruang kelas. Jika karena alasan kelas besar, kelas parasarjana, biasanya terdapat asisten pengajar sarjana yang dapat menjawab pertanyaan anda.;
2. Seminar. Seminar merupakan kelas kecil, kelas parasarjana, biasanya terdapat dijenjang sarjana. Dalam seminar, waktu di curahkan seluruhnya kearah diskusi. Para mahasiswa sering dipersyaratkan untuk mempersiapkan presentasi seminar atas dasar bacaan atau penelitian mandiri mereka
3. Laboratorium. Sebagian kuliah memerlukan praktik di laboratorium; teori yang dipelajari di ruang kelas diterapkan untuk menyelesaikan masalah praktis;
4. Riset. Dalam banyak perkuliahan sering dipersyaratkan untuk menulis”penelitian” atau ”akalah”. Makalah didasarkan atas kajian atau penelitian yang dikerjakan di perpustakaan atau laboratorium. Seorang dosen biasanya memberi tugas membuat makalah sejak awal perkuliahan pertama. Mahasiswa diharapkan mengerjakan tugas tersebut selama satu semester, lalu menyerahkannya menjelang akhir semester. Nilai yang Anda peroleh dari makalah merupakan bagian penting dari tahap perkuliahan. Kiranya bijak untuk menyelesaikan makalah segera mungkin sehingga ada waktu luang untuk bertanya kepada orang lain dalam me-reviw makalah tersebut dan mengadakan refisi.

G. Kesimpulan
Dari uraian tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa;
1. Dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam haruslah memerhatikan metode pembelajaran yang memikirkan masa depan yaitu memerhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi dan politik, tidakboleh lagi hanya mendasarkan diri pada teori psikologi belajar yang menempatkan siswa sebagai makhluk sosial, budaya, politik yang hidup sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa dan dunia yang harus diseragamkan oleh institusi pendidikan.
2. Metode pembelajaran pendidikan Islam di dunia Islam lebih cenderung memodernisasikan pendidikan Islam dengan pendidikan Barat serta lebih menekankan pada nilai-nilai Islam dalam sistem pemerintahan.
3. Metode pembelajaran Islam di dunia Barat lebih cenderung mengislamisasikan pendidikannya dengan dunia Islam dan lebih menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya saat itu.
4. Metode pembelajaran pendidikan Islam yang bisa melahirkan lulusan yang kreatif yang kritis adalah metode double movement, metode diskusi, metode pembelajaran dan kebebasan dan metode dialogis




























DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Annhlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani, 1995
Abd. Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan, Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Barat, Yogyakarta: Gama Media, 2003
Choirul Mahfud , Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006
Fahmy Lukman, Syariat Islam dalam Kebijakan Pendidikan,www.icmimuda.org.2006, diakses tgl. 23 Mei 2008
HAR. Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural, Magelang: Indonesiatera, 2003.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran, diakses tgl. 23 Mei 2008
http://www.pendidkanal-azhar.html, diakses tgl. 23 Mei 2008.
http://www.stidiislamdibelanda.html, diakses tgl. 23 Mei 2008.

M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.

Sutrisno, Pendidikan Islam yang Menghidupkan, Studi Kritis terhadap Pemikiran Fazlur Rahman, Yogyakarta: Kota Kembang, 2006.